Jumat, 08 Januari 2010

Kecerdasan Aisyah r ha.

Aisyah r ha. menikah dengan Rasulullah saw pada usia 6 tahun di Makkah, namun baru berkumpul dengan Rasulullah saw pada usia 9 tahun di Madinah. Aisyah r ha. ditinggal wafat oleh Rasulullah saw ketika berusia 18 tahun. Bagi kita apa yang dapat dilakukan oleh seorang gadis berusia 18 tahun? Tapi Aisyah r ha. telah menguasai berbagai masalah agama sedemikian luas. Bahkan dikatakan bahwa segala sabda dan perbuatan Rasulullah saw dapat diingatnya tanpa batas.
Masruq rah. a. berkata "Aku menyaksikan para sahabat terkemuka menanyakan masalah-masalah agama kepada Aisyah r ha.
Atha rah. a. berkata "Aisyah r ha. lebih menguasai masalah agama dan lebih alim daripada para sahabat laki-laki.
Abu Musa ra berkata "Apabila kami menjumpai kesulitan dalam suatu masalah agama maka kami akan menjumpai jawabannya dari Aisyah r ha. (Al Ishabah)
Terdapat 2210 hadits yang telah diriwayatkan oleh Aisyah r ha. tercantum di dalam berbagai kitab-kitab hadits. (Talqih).
Aisyah r ha. sendiri berkata " ketika kecil, aku masih bermain-main pada saat diturunkan ayat:

بل الساعةُ موعدُهم والساعةٌادهى وامرّ

Bahkan sebenarnya kiamat itu adalah hari yang dijanjikan kepada mereka dan hari kiamat itu adalah lebih dahsyat dan lebih pahit (QS Al Qamar: 46) (Bukhari)
Aisyah r ha. tinggal di Makkah Mukarramah sampai usia 8 tahun. Dalam usia yang sangat muda ia dapat mengetahui dan mengingat turunnya ayat tsb. Ini semua adalah bukti nyata atas keberkahan dan keistimewaan agama ini, jika tidak maka apa yang dapat dilakukan oleh seorang anak yang berusia 8 tahun? (Fadhail Amal)
Imam Adz Dzahabi rah a. berkata "Dapat dipastikan bahwa Ibunda Aisyah r ha. adalah orang yang paling dalam ilmunya di kalangan wanita ummat ini" Biliknya dikenal sebagai sekolah pertama di dunia, beliau melakukan ta'lim harian bersama Rasulullah SAW. di kamar itu.
Beliau pindah dari rumah As Shiddiq ke rumah Nubuwah sejak masih kanak-kanak.
Di kalangan para perawi hadits Aisyah r ha. menempati posisi ke 4 dalam jumlah hadits yang diriwayatkan.
1). Abu Hurairah r.a. 5374 hadits. 2). Abdullah ibnu Umar r.a. 2630 hadits. 3). Anas bin Malik r.a. 2286 hadits. 4). Aisyah r. ha. 2210 hadits. 5). Abdullah ibnu Abbas r.a. 1660 hadits. 6). Jabir bin Abdullah Al Anshariy r.a. 1540 hadits. 7). Abu Said Al Khudriy r.a. 1540 hadits. (Nisa Mubasyarat bil Jannah) Semoga kita dapat meniru cara mereka belajar...

Mengajar Anak Berpuasa

Rubayyi binti Mu'awwidz r huma meriwayatkan bahwa ketika Rasulullah saw bersabda "Sekarang adalah Hari 'Asyura, hendaklah kalian berpuasa" maka sejak saat itu kami selalu berpuasa dan melatih anak-anak kami berpuasa. Jika mereka menangis karena lapar maka kami akan menghiburnya dengan permainan hingga saat berbuka puasa. Itulah kebiasaan kami (Bukhari).
Disebutkan di dalam sebagian hadits bahwa ibu-ibu yang sedang menyusui pun saat itu tidak akan menyusui anaknya. Keadaan iman mereka pada saat itu memang sangat kuat, sangat jauh berbeda dengan kita sekarang ini, dan anak-anak kitapun tidak biasa menahan lapar. Namun yang patut kita perhatikan bahwa sejauh mana kita memiliki kemampuan sejauh itu hendaknya kita beramal. Sangat penting menyesuaikan amalan sesuai kemampuan karena jika seseorang memiliki kemampuan tetapi tidak mengerjakannya maka hal itu sungguh tidak pantas. (Fadhail Amal)

Minggu, 06 Desember 2009

Silaturrahim

Umar bin Khattab r.a. berkata: “aku dan tetanggaku orang anshar dari Banu Umayyah bin Yazid saling bergantian setiap hari untuk bersilatuhim kepada Rasululullah. Sehari aku sehari dia. Apabila giliran aku maka sesudah kembali aku akan menceritakan kepadanya apa saja yang aku dapatkan dari Rasulullah saw, begitu juga apabila giliran dia maka dia akan menceritakan kepadaku semua yang dia dapatkan dari Rasulullah saw. (As Sunnah an Nabawiyah wa Makanatuha fi Tasyriil Islam - Mustafa as Sibai). Dengan cara bersilaturrahim para sahabat mempelajari berbagai macam ilmu dan amalan dari Rasulullah saw dan mereka saling mengajarkan satu sama lain, bukan saling merahasiakan ilmu yang mereka dapatkan. Inilah kebiasaan sahabat yang patut kita contoh.
Maulana Inamul Hasan rah. a. berkata bahwa apabila ada 4 kebiasaan ini di tengah ummat maka pasti kejahilan akan sirna. Sunna sunana sikna sikana (Bhs Urdu), dengar sampaikan belajar ajarkan.

Penjelasan Melalui Ahlinya


Seorang wanita datang kepada Rasulullah saw menanyakan bagaimana caranya bersuci selepas haidh. Maka Rasulullah saw menjawab “ambil kain lap kemudian bersihkan dan berwudhulah dengannnya”. Wanita tersebut tidak paham maka dia bertanya lagi bagaimana caranya. Rasulullah saw mengulang jawaban yang sama hingga tiga kali. Wanita itu masih bertanya juga, maka Rasulullah saw memanggil Aisya r.a. untuk menjelaskan bagaimana caranya. Aisya r.a. mengambil kain lap kemudian memberikan contoh bagaimana cara membersihkan bekas darah haidh kemudian berwudhu. (As Sunnah an Nabawiyah wa Makanatuha fi Tasyriil Islam - Mustafa as Sibai)

Rasulullah saw tidak memberitahukan secara teknis bagaimana cara membersihkan bekas darah itu karena kemuliaan dan ketinggian akhlaq beliau untuk menjaga marwah atau kehormatan seorang wanita. Penjelasan secara teknis disampaikan melalui ahlinya yakni Aisya r.a.(wallahu a’lam)

Sabtu, 28 November 2009

Talaqqi (Berhadapan Langsung Dengan Guru)


Para sahabat dan alim ulama terdahulu belajar dengan cara talaqqi (berhadapan langsung dengan guru). Bukan dengan metode filologi semata (mempelajari kitab secara mandiri). Walaupun perintah belajar itu sifatnya fardhu ‘ain, namun dengan mengikuti tertib yang diajarkan seorang guru akan mendatangkan keberkahan.

Sekh Nawawi Al Bantani belajar secara talaqqi kepada Sekh Sahal Banten dan Sekh Yusuf Purwakarata kemudian melanjutkannya di Makkah Mukarramah kepada Imam Masjidil Haram Syekh Ahmad Khatib Sambas, Abdul Ghani Bima, Yusuf Sumbulaweni, Syekh Nahrawi, Syekh Ahmad Dimyati, Ahmad Zaini Dahlan, Muhammad Khatib Hambali, dan Syekh Abdul Hamid Daghestani.

Berhajat Kepada Ilmu


Menuntut ilmu dapat dilakukan dengan membaca kitab para ‘ulama tapi yang terpenting adalah dengan cara mujalasah, yakni duduk langsung dengan para ‘ulama tersebut. Kepahaman dan keberkahan akan bercucuran dari langit dengan cara seperti ini. Seorang murid secara langsung bisa menyaksikan bagaimana cara orang ‘alim atau ulama itu mengajar, men-syarah-kan, menjawab pertanyaan dll.

Murid Imam Ahmad رحمه الله تعلى berkata: “Saya berteman dan bersahabat dengan Abu Abdillah (Imam Ahmad) dan saya pelajari darinya ilmu dan adab.

Salah seorang murid Imam Malik رحمه الله تعلى yakni Ibnu Wahhab رحمه الله berkata: “Pelajaran adab-adab dari imam Malik رحمه الله تعلى kami dapatkan lebih banyak daripada pelajaran ilmu”

Artinya bahwa Ibnu Wahhab رحمه الله تعلى selaku seorang murid, betul-betul bergaul, belajar dan bermajelis dengan gurunya.

Peorang penuntut ilmu harus memiliki hajat terhadap ilmu dan beradab terhadap ilmu sebelum memulai langkah menuju menuntut ilmu. Oleh karena itu sangat banyak wasiat-wasiat dari para ‘ulama tentang pentingnya belajar adab.

Imam Malik رحمه الله تعلى pernah berkata kepada seorang pemuda dari kalangan masyarakat Quraisy (keturunan Qurasy):

“Wahai anak saudaraku, belajarlah adab tersebut sebelum kamu memulai belajar ilmu” Adab menuntut ilmu merupakan hajat yang sangat penting sekali.

Berkata Yusuf bin al Husein: “Dengan adab itu, ilmu tersebut dipahami.”
Berkata Abu Abdillah al-Balhi : “Adab terhadap ilmu lebih banyak daripada ilmu itu sendiri ”

Juga berkata Imam Laits ibn Sa’ad : “Ketika saya memperhatikan para penuntut ilmu hadits, lalu saya melihat pada mereka ada suatu kecacatan (suatu hal yang perlu dikritik dan dinasehati) lalu beliau berkata: “apa itu…?
Kalian kepada adab sedikit tapi kepada ilmu berhajat lebih banyak”

Jumat, 20 November 2009

Berjalan Jauh


Jabir bin Abdillah r.a.
Jabir bin Abdillah r.a. menempuh jarak sejauh sebulan perjalanan semata-mata untuk bertemu Abdullah bin Unais demi sebuah hadits. Bayangkan, hanya demi sebuah hadits, Jabir r.a. sanggup menempuh jarak yang begitu jauh, perjalanan yang begitu sulit. Siang kepanasan, malam kedinginan, makan minum tak tentu ada, bila hujan betrteduh dimana…? Sedangkan di antara para sahabat Nabi saw Jabir r.a. termasuk yang paling banyak meriwayatkan hadits yakni sebanyak 1.540 buah hadits.

Bermusafir

Rufai' bin Mihran Ar-Riyahi Al Bashri

Seorang tabi'i, Rufai' bin Mihran Ar-Riyahi Al-Bashri rahimahullah (wafat 93 H) yang terkenal dengan gelar Abul 'Aliyah berkata "Kami mendengar riwayat dari sahabat-sahabat Nabi saw di Basrah, namun kami tidak merasa puas hingga kami bermusafir ke Madinah untuk mendengarnya langsung dari mulut-mulut mereka sendiri"


Sa'id bin Al-Musayyab

Sa'id bin Al-Musayyab, ulama besar Madinah (wafat 94 H) berkata:
"Aku bermusafir selama berhari-hari untuk mendapatkan sebuah hadits."
Siapakah Sa'id bin Al-Musayyab ? Beliau adalah salah seorang di antara tabi’in yang digelar Sayyidut Tabi'in.


As Sya’bi

Seorang tabi'i terkenal, 'Amir bin Syarahil Al-Kufi rahimahullah atau terkenal dengan gelaran As-Sya'bi (wafat 103 H) berjalan dari Kufah menuju Madinah karena tiga buah hadits yang disampaikan kepadanya.

Keliling Dunia

Imam Ahmad bin Hanbal
Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, "Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah mengelilingi dunia sebanyak dua kali sampai beliau menghimpun Al-Musnad.
" Beliau merentas dunia menuju Syam, Maghribi, Algeria, Mekah, Madinah, Hijaz, Yaman, Iraq, Parsi, Khurasan .... kemudian beliau kembali ke Baghdad.

Berjalan Kaki


Imam Baqiy bin Makhlad Al-Andalusi

Imam Baqiy bin Makhlad Al-Andalusi rahimahullah (lahir 201 H, wafat 276 H) berjalan kaki dari Andalus (Spanyol) ke Baghdad semata-mata untuk menemui Imam Ahmad bin Hanbal dan mempelajari hadits darinya.
Usianya ketika itu lebih kurang 20 tahun. Tiba di sana, beliau hanya mampu mempelajari hadits dari balik pintu karena adanya fitnah yang menimpa Imam Ahmad. Setiap hari hanya mendapat beberapa buah hadits. Dan berkat kesabaran dan kesungguhannya, sebanyak 300 buah hadits telah berhasil didengarnya.

Imam Ibnu Abi Hatim Ar-Razi

Imam Ibnu Abi Hatim Ar-Razi rahimahullah menceritakan kehebatan bapanya, Imam Abu Hatim Muhammad bin Idris Ar-Razi rahimahullah (lahir 195 H, wafat 277 H). Beliau bermusafir dari Kufah ke Baghdad berkali-kali. Begitu juga dari Mekah menuju ke Madinah.
Dari Madinah menuju Mesir hanya dengan berjalan kaki. Beliau juga berjalan kaki dari Mesir ke Ar-Ramlah. Dari Ar-Ramlah ke Baitul Maqdis, 'Asqalan dan Tobariyah. Dari Tobariyah pula ke Damsyik. Dari Damsyik ke Hims. Dari Hims ke Antakia. Dari Antakia ke Tarasus. Dari Tarasus, beliau kembali lagi ke Hims. Kemudian ke Baisan dan ke Ar-Raqqah. Dari Ar-Raqqah, beliau mengharungi Sungai Eufrat menuju Baghdad.
Usianya ketika itu baru 20 tahun. Jarak yang begitu jauh ditempuh dengan berjalan kaki. Pengembaraan pertamanya memakan waktu 7 tahun dan pengembaraan kedua kalinya memakan waktu selama 3 tahun.

Mendatangi Seluruh Negeri


As Sya’rani

Ibnul Muammal rahimahullah berkata ”Tiada negeri yang tidak dimasuki oleh Al-Fadhlu As-Sya'rani rahimahullah (wafat 282 H) untuk menuntut Ilmu Hadits kecuali Andalus."

Keliling Timur dan Barat


Ibnul Muqri'
Ibnul Muqri' rahimahullah berkata "Aku mengelilingi timur dan barat sebanyak empat kali."

Abu Sa'd As-Saman Ar-Razi
Al-Hafiz Al-Faqih Abu Sa'd As-Saman Ar-Razi rahimahullah (wafat 445 H) mengelilingi dunia dari timur ke barat dengan berjalan kaki. Jumlah gurunya mencapai jumlah 3.600 orang.

Abul Fityan Umar Ar-Rowwasi
Al-Hafiz Abul Fityan Umar Ar-Rowwasi rahimahullah (lahir 428 H, wafat 503 H) telah putus jari-jarinya ketika pengembaraan ilmunya di kawasan yang sangat dingin. Beliau merupakan seorang ulama besar sehingga gurunya sendiri, Abu Bakar Khatib Al-Baghdadi dan Imam Al Ghazali meriwayatkan darinya. Bahkan Imam Al Ghazali sangat memuliakan Abu Fityan di dalam majelisnya.

Hijrah


Kisah Imam Ibnu A'bdil Daim Al-Maqdisi
Imam Ibnu A'bdil Daim Al-Maqdisi rahimahullah lahir di Nablus 575 H, hijrah dan wafat di Damsyik 668 H. Beliau mengajarkan hadits selama 60 tahun. Beliau adalah guru kepada para ulama ternama seperti Ibnul Hajib, Imam Nawawi, Ibnu Daqiq Al-'Id, Ibnu Taimiyah, Ad-Dimyati dan Ibnul Khabbaz rahimahumullah.

Mendatangi Setiap Mimbar (Majelis Ta’lim)


Al-Hafiz Al-Arghiyani rahimahullah (lahir 223 H, wafat 315 H) berkata "Aku tidak mengetahui kalau ada mimbar dari mimbar-mimbar Islam yang masih belum aku datangi untuk mendengar hadits."

Mendatangi Guru



Abdullah ibnu Abbas r.a

Abdullah ibnu Abbas r.a. berkata “Aku merasa tertinggal jauh dalam masalah agama. Jika ada yang mengatakan bahwa ada seseorang yang mengetahui suatu ilmu agama atau mengaku telah mendengarnya langsung dari Rasulullah saw maka aku akan datang menemuinya dan membuktikannya.

Kebanyakan ilmu aku dapatkan dari kaum Anshar. Jika aku datang ke rumahnya dan aku dapati ia sedang tidur maka aku menghamparkan kain di depan rumahnya untuk menunggu, hingga wajah dan badanku menjadi kotor kena debu.

Sebagian dari mereka berkata “Engkau adalah ponakan Rasulullah saw mengapa menyusahkan diri padahal engkau dapat memanggilku…”

“Aku sedang menuntut ilmu maka akulah yang wajib mendatangimu” jawabku.

Aku pun terus mempelajari ilmu darinya hingga suatu ketika banyak orang yang belajar ilmu dariku, maka sahabat Anshar tadi baru menyadari dan berkata “anak ini ternyata lebih cerdas daripada kita…” (Darami)

Abdullah ibnu Abbas r.a. dijuluki Hibrul Ummah dan Bahrul Ulum. Ketika wafat di Thaif yang mengimami shalat jenazahnya adalah Muhammad, putra Ali bin Abi Thailb k.w. Ia berkata “Imam Rabbani ummat ini telah meninggalkan kita”

Abdullah ibnu Umar r.a. berkata bahwa “Orang yang paling istimewa mengetahui asbabun nuzul adalah Abdullah ibnu Abbas r.a.”

Banyak Guru


Abdullah ibnu Mubarak rah. a. adalah seorang Muhaddits terkenal. Ia berkata bahwa “Aku telah menemui 4.000 guru untuk mempelajari hadits”

Al-Hafiz Abu Sa'ad As-Sam'ani rahimahullah (lahir 506 H, wafat 562 H) mengembara selama lebih kurang 20 tahun. Ibnu Najjar rahimahullah berkata "Aku pernah mendengar seseorang berkata bahwa jumlah gurunya mencapai 7.000 orang"

Bapanya membawanya ke Naisabur, Kota Ulama Muhaddits pada tahun 509 H. Usianya ketika itu baru 3 tahun setengah. Beliau telah merantau kepada lebih dari 100 kota. Pengembaraannya secara keseluruhan memakan waktu lebih kurang 23 tahun. Sedangkan sistem pengangkutan yang paling bagus di zaman itu hanyalah binatang tunggangan dan itupun hanya dapat dilakukan oleh mereka yang mampu. Jika tidak, maka mereka akan berjalan kaki.

Hormat Kepada Guru



Mughirah rah. a. berkata bahwa “Kami begitu takut kepada guru kami Sekh Ibrahim rah. a. seperti rasa takutnya kami kepada Raja”

Memuliakan Guru


Imam Abu Yusuf rah.a. berkata bahwa ia pernah mendengar masyaikh berkata bahwa barangsiapa yang tidak memuliakan gurunya maka ia tidak pernah berhasil.

Memuliakan Ulama


Yahya bin Mu’in rah a. adalah seorang Muhaddits besar. Imam Bukhari rah. a. pernah berkata mengenai dirinya “Aku belum pernah melihat seseorang yang begitu memuliakan para Muhaddits sebagaimana beliau”.

Banyak Waktu Di Dalam Madrasah



Abu Tohir As-Silafi
Ketika di Iskandariyah, Abu Tohir As-Silafi rahimahullah tidak pernah keluar ke taman melainkan sekali. Kebanyakan masanya dihabiskan di dalam madrasah. Para pelajar membacakan hadits di hadapannya sedang usianya ketika itu sudah mencapai 100 tahun. Kehidupannya benar-benar dihabiskan sebagai khadam kepada ilmu hadits.